Senin, 07 Juni 2010

bentuk-bentuk bumi

Tenaga Endogen dan Eksogen
1. Tenaga Endogen
Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan
perubahan pada kulit bumi. Tenaga endogen ini sifatnya membentuk permukaan
bumi menjadi tidak rata. Mungkin saja di suatu daerah dulunya permukaan bumi rata
(datar) tetapi akibat tenaga endogen ini berubah menjadi gunung, bukit atau
pegunungan. Pada bagian lain permukaan bumi turun menjadikan adanya lembah
atau jurang.
Secara umum tenaga endogen dibagi dalam tiga jenis yaitu tektonisme, vulkanisme,
dan seisme atau gempa.
a. Tektonisme
Tektonisme adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan
terjadinya dislokasi (perubahan letak) patahan dan retakan pada kulit bumi dan
batuan. Berdasarkan jenis gerakan dan luas wilayah yang mempengaruhinya,
tenaga tektonik dapat dibedakan atas gerak orogenesa dan epirogenesa.

Gerak orogenesa adalah gerakan tenaga endogen yang relatif cepat dan meliputi
daerah yang relatif sempit. Gerakan ini menyebabkan terbentuknya pegunungan.
Contohnya terbentuknya deretan lipatan pegunungan muda Sirkum Pasifik.
Sedangkan gerak epirogenesa adalah kebalikan dari gerak orogenesa. Gerakan
ini sangat lambat, dan meliputi areal yang sangat luas.
Bila permukaan bumi bergerak turun, sehingga permukaan laut tampak seolaholah
naik, maka gerak epirogenesa disebut gerak epirogenesa positif. Contohnya
terjadi di pantai Timor dan pantai Skandinavia. Sebaliknya gerak epirogenesa
negatif terjadi apabila permukaan bumi naik, sehingga tampak seolah-olah
permukaan air laut turun. Contohnya terjadi di Teluk Hudson.

b. Vulkanisme
Vulkanisme adalah semua gejala alam yang terjadi akibat adanya aktivitas
magma. Bagaimana terjadinya vulkanisme? Vulkanisme sebenarnya sebagai
akibat dari kegiatan tektonisme. Kegiatan tektonisme ini akan mengakibatkan
retakan-retakan pada permukaan bumi yang menyebabkan aliran lava dari bagian
dalam litosfer ke lapisan atasnya bahkan sampai ke permukaan bumi. Kegiatan
magma itulah yang dinamakan vulkanisme. Hasilnya dapat dilihat pada gunung
berapi. Uraian tentang vulkanisme ini Anda pelajari dalam penjelasan selanjutnya.

c. Seisme (gempa)
Pernahkah Anda mengalami gempa? Jika pernah, apa yang Anda rasakan?
Benar, bumi atau lantai yang kita pijak terasa bergoyang. Gempa bumi bisa terjadi
siang atau malam hari. Mungkin saja di siang hari Anda sedang duduk di kursi,
tiba-tiba kursi bergoyang, air dalam gelas bergoyang dan tumpah, gantungan
listrik berayun, pintu dan jendela berderak, dan tiba-tiba di luar orang-orang
berteriak, gempa... gempa... Gempa seperti ini mungkin pernah atau sering terjadi
di daerah Anda. Bahkan gempa bisa menimbulkan petaka yang hebat, misalnya
menyebabkan tanah longsor, bangunan roboh, banjir, gelombang pasang, bahkan
bisa menelan korban mahluk hidup termasuk manusia. Misalnya gempa yang
terjadi di Tokyo Jepang tahun 1933 menelan korban 60.000 manusia dan 300.000
rumah hancur. Sekarang coba Anda sebutkan di daerah mana saja gempa yang
terjadi di Indonesia! Ya benar, misalnya gempa yang terjadi di Bengkulu, atau di
Nusa Tenggara Timur yang menewaskan banyak orang.
Tahukah Anda apa yang menyebabkan terjadinya gempa? Zaman dulu di
beberapa daerah konon ada yang percaya bahwa gempa disebabkan bumi ini
terletak di ujung tanduk sapi (dewa). Sang Sapi mendapat laporan bahwa bumi
ini sudah kosong oleh orang-orang baik. Bumi ini hanya diisi oleh orang jahat.
Sehingga Sang Sapi menggoyangkan kepalanya untuk memberikan peringatan
pada manusia melalui gempa.
Tentunya Anda tidak akan percaya dengan cerita di atas. Sesungguhnya gempa
terjadi akibat getaran kulit bumi yang disebabkan oleh kekuatan dari dalam bumi.
Bagaimana getaran itu terjadi? Kerak bumi ini merupakan lempengan yang kaku.
Di daerah yang labil, lapisan litosfer ini mengalami perubahan letak. Misalnya di
satu bagian terangkat ke atas, sedangkan di bagian sebelahnya menurun atau
bertahan pada kedudukannya. Pelengkungan pada perbatasan antara dua bagian
yang bergeser ini menimbulkan ketegangan yang lama-kelamaan akan patah
yang mendadak. Patahan yang mendadak itulah yang menimbulkan getaran
gempa.
Tenaga dari dalam bumi yang menyebabkan gempa ini bermacam-macam.
Karena itu gempa dapat diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya, bentuk
episentrumnya, letak hiposentrumnya, jarak, dan letak episentrumnya.
Berdasarkan peristiwa yang menimbulkannya, gempa dibagi menjadi gempa
tektonik, gempa vulkanik, dan gempa runtuhan:
1) Gempa tektonik merupakan jenis gempa yang terkuat dan bisa meliputi
wilayah yang luas. Gempa ini merupakan akibat dari gerakan gempa tektonik
yaitu berupa patahan atau retakan.
2) Gempa vulkanik yaitu gempa yang terjadi sebelum atau pada saat gunung
berapi meletus. Gempa ini hanya terasa di daerah sekitar gunung berapi,
sehingga tidak begitu kuat jika dibandingkan dengan gempa tektonik.
3) Gempa runtuhan yaitu gempa yang terjadi akibat runtuhnya atap gua yang
terdapat di dalam litosfer, seperti gua kapur atau terowongan tambang. Gempa
ini relatif lemah dan hanya terasa di sekitar tempat runtuhan terjadi.
Masih banyak penggolongan jenis gempa. Misalnya berdasarkan bentuk
episentrumnya, dibedakan menjadi 2 macam, yaitu gempa linier dan gempa
sentral. Gempa linier yaitu episentrumnya berupa garis. Sedangkan gempa sentral
yaitu episentrumnya berbentuk suatu titik. Berdasarkan letak kedalaman
hiposentrumnya dibedakan menjadi tiga macam gempa, yaitu gempa dalam,
gempa intermedier (menengah), dan gempa dangkal. Berdasarkan jarak
episentrumnya, gempa dibedakan menjadi tiga macam, yaitu gempa setempat,
gempa jauh, dan gempa sangat jauh. Berdasarkan letak episentrumnya, gempa
dapat dibedakan menjadi gempa laut dan gempa darat.

Sekarang tugas Anda mencari penjelasan pengelompokan jenis gempa tersebut!
Berikan pula contoh-contohnya. Jenis gempa apa saja yang pernah terjadi di
daerah Anda? Diskusikan dengan temanmu dan beritahukan hasil diskusimu
pada guru bina/pamong! Jika sudah selesai, kita lanjutkan pada materi
selanjutnya!
2. Tenaga Eksogen
Pernahkah Anda melihat pengikisan pantai? Setiap saat air laut menerjang pantai
yang akibatnya tanah dan batuannya terkikis dan terbawa oleh air. Tanah dan batuan
yang dibawa air tersebut kemudian diendapkan dan menyebabkan pantai menjadi
dangkal. Di daerah pegunungan bisa juga ditemukan sebuah bukit batu yang kian
hari semakin kecil akibat tiupan angin.
Ilustrasi di atas merupakan contoh tenaga eksogen. Jadi tenaga eksogen adalah
kebalikan dari tenaga endogen, yaitu tenaga yang berasal dari luar bumi. Sifat umum
tenaga eksogen adalah merombak bentuk permukaan bumi hasil bentukan dari
tenaga endogen. Bukit atau tebing tadi yang terbentuk hasil tenaga endogen terkikis
oleh angin, sehingga dapat mengubah bentuk permukaan bumi. Secara umum tenaga
eksogen berasal dari 3 sumber, yaitu:
a. Atmosfere, yaitu perubahan suhu dan angin.
b. Air yaitu bisa berupa aliran air, siraman hujan, hempasan gelombang laut, gletser,
dan sebagainya.
c. Organisme yaitu berupa jasad renik, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.
Di permukaan laut, bagian litosfer yang muncul akan mengalami penggerusan oleh
tenaga eksogen yaitu dengan jalan pelapukan, pengikisan dan pengangkutan, serta
sedimentasi. Misalnya di permukaan laut muncul bukit hasil aktivitas tektonisme atau
vulkanisme. Mula-mula bukit dihancurkannya melalui tenaga pelapukan, kemudian
puing-puing yang telah hancur diangkut oleh tenaga air, angin, gletser atau dengan
hanya grafitasi bumi. Hasil pengangkutan itu kemudian diendapkan, ditimbun di bagian
lain yang akhirnya membentuk timbunan atau hamparan bantuan hancur dari yang
kasar sampai yang halus.
Bagaimana sampai di sini bisa dipahami? Jika masih belum coba baca kembali
terutama bagian yang dianggap sulit. Bagi Anda yang sudah paham, bagus! Kita
lanjutkan pada bentuk-bentuk muka bumi di daratan.
B. Bentuk-Bentuk Muka Bumi di Daratan
Coba Anda perhatikan bentuk permukaan bumi di sekitar tempat tinggal Anda. Mungkin
Anda berada di daerah pegunungan, gunung, bukit, dataran tinggi, dataran rendah,
lembah, ngarai/canyon, atau bentuk lainnya. Seperti telah dijelaskan dalam bahasan
sebelumnya, perbedaan bentuk muka bumi ini disebabkan oleh tenaga endogen dan
eksogen. Untuk memahami lebih jauh tentang bentuk muka bumi khususnya di daratan,
Anda pelajari penjelasan berikut.
1. Gunung
Anda pernah melihat gunung atau mungkin mendakinya. Jika dipandang dari kejauhan
gunung sungguh pemandangan yang indah. Gunung adalah bentuk muka bumi yang
berbentuk kerucut atau kubah yang berdiri sendiri. Pada beberapa gunung ditemukan
juga yang bersambung dengan gunung lainnya, namun bentuk terpisahnya masih
jelas.
Umumnya gunung merupakan gunung berapi. Gunung berapi ini ada yang masih
utuh dengan kepundan di tengahnya, misalnya gunung Ciremai, gunung Muria,
gunung Dompo Batang, dan banyak lagi gunung lainnya. Ada pula gunung berapi
yang hanya merupakan sisa dari gunung api lama yang telah terpotong-potong oleh
letusan yang hebat pada masa lampau, misalnya gunung Burangrang yang
merupakan sisa gunung api Sunda di Jawa Barat, dan Pulau Sertung yaitu bagian
sisi gunung Krakatau.
Bentuk gunung menjulang tinggi, yang berguna sebagai penahan awan. Akibatnya
daerah yang ada di daerah bawah dan sekitar gunung bisa sering terjadi hujan.
Adanya hujan ini bisa menjadikan hutan. Hutan dapat berfungsi menyimpan air,
akibatnya di sekitar hutan sering ditemukan mata air dan sungai-sungai yang sangat
bermanfaat bagi kehidupan mahluk hidup.
Coba cari gunung di sekitar tempat tinggal Anda, kemudian bandingkan apakah
gunung itu masih utuh atau sisa dari letusan gunung berapi. Anda jelaskan pula
manfaat gunung di sekitar tempat tinggalmu. Hasilnya diskusikan dengan teman
Anda, kemudian laporkan pula hasil diskusi kepada guru bina!
2. Pegunungan
Apa bedanya antara gunung dan pegunungan? Tadi telah dijelaskan di atas bahwa
gunung merupakan bentuk muka bumi yang menjulang tinggi berbentuk kerucut
atau kubah dan berdiri sendiri. Sedangkan pegunungan merupakan suatu jalur
memanjang yang berhubungan antara puncak yang satu dengan puncak lainnya,
misalnya Pegunungan Yura di Prancis dan Pegunungan Panini di Inggris. Di Indonesia
juga banyak ditemukan pegunungan. Coba Anda diskusikan dengan teman,
pegunungan yang ada di Indonesia. Benar jawaban Anda, pegunungan dimaksud
diantaranya Bukit Barisan di Sumatera.
Apa yang menyebabkan terjadinya pegunungan? Pegunungan terbentuk pada waktu
terjadinya gerak kerak bumi yang dalam dan luas. Karena itu daerah pegunungan
biasanya relatif luas. Secara sederhana dapat kita membedakan pegunungan tua
dan pegunungan muda. Pegunungan tua merupakan pegunungan yang relatif rendah
dengan puncaknya yang relatif tumpul dan lerengnya landai. Misalnya Pegunungan
Skandinavia dan Pegunungan Australia Timur yang terbentuk pada zaman Primer
(Paleozoikum). Sedangkan pegunungan muda pada umumnya tinggi dengan
puncaknya yang runcing dan lerengnya relatif curam. Pegunungan lipatan yang paling
muda adalah hasil pengangkatan zaman tertier, misalnya Sirkum Mediterania dan
Sirkum Pasifik.
a. Pegunungan Lipatan
Pegunungan lipatan disebabkan oleh terlipatnya lapisan (strata) sedimen yang
besar karena tekanan dari dalam bumi. Akibat proses pelipatan ini, lebar lapisan
sedimen menciut sedangkan tebalnya bertambah. Lapisan sedimen yang terlipat
itu disebut lipatan atas atau disebut juga antiklinal. Sedangkan lapisan sedimen
yang terlipat ke bawah dinamakan lipatan bawah atau sinklinal. Untuk lebih
jelasnya perhatikan gambar berikut ini!
a)
Tenggelam
sepanjang
garis sesar
yang hampir
sejajar
Tenggelam
sepanjang
garis sesar
yang hampir
sejajar
Gunung bungkah
b. Pegunungan oleh Pengangkatan Kerak Bumi
Ada pegunungan yang disebabkan oleh pengangkatan kerak bumi. Pengangkatan
kerak bumi ini khususnya sepanjang garis sesar atau garis retakan. Oleh karena
itu gunung ini disebut gunung bungkah atau horst. Untuk lebih jelasnya perhatikan
gambar berikut ini!
Gambar 4. Pegunungan bungkah.
c. Pegunungan Sisa
Kenapa disebut pegunungan sisa? Pegunungan ini terjadi apabila pegunungan
yang tinggi terkikis oleh denudasi dalam jangka waktu yang lama. Gunung
semacam ini sering juga disebut gunung denudasi atau gunung relik. Denudasi
adalah peristiwa terbukanya atau terkelupasnya batuan asli pada peristiwa
pelapukan.
3. Dataran Tinggi
Dataran luas yang letaknya di daerah tinggi atau pegunungan disebut dataran tinggi.
Dataran tinggi terbentuk sebagai hasil erosi dan sedimentasi. Dataran tinggi
dinamakan juga plato (plateau), misalnya Dataran Tinggi Dekkan, Dataran Tinggi
Gayo, Dataran Tinggi Dieng, Dataran Tinggi Malang, atau Dataran Tinggi Alas.
Dataran tinggi biisa juga terjadi oleh bekas Kaldera luas, yang tertimbun material
dari lereng gunung sekitarnya. Misalnya Dataran Tinggi Dieng (Jawa Tengah) yang
diduga oleh proses seperti itu.
4. Dataran Rendah
Dataran rendah adalah tanah yang keadaannya relatif datar dan luas sampai
ketinggian sekitar 200 m dari permukaan laut. Tanah ini biasanya ditemukan di sekitar
pantai, tetapi ada juga yang terletak di pedalaman. Di Indonesia banyak dijumpai
dataran rendah, misalnya pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa Barat, pantai
selatan Kalimantan, Irian Jaya bagian barat, dan lain-lain. Dataran rendah terjadi
akibat proses sedimentasi. Di Indonesia dataran rendah umumnya hasil sedimentasi
sungai. Dataran rendah ini disebut dataran aluvial. Dataran aluvial biasanya
berhadapan dengan pantai landai laut dangkal. Dataran ini biasanya tanahnya subur,
sehingga penduduknya lebih padat bila dibandingkan dengan daerah pegunungan.
5. Lembah
Anda mungkin sering menemukan atau menyebut daerah lembah. Lembah adalah
daerah rendah yang terletak di antara dua pegunungan atau dua gunung. Lembah
juga merupakan daerah yang mempunyai kedudukan lebih rendah dibandingkan
daerah sekitarnya. Lembah di daerah pegunungan lipatan sering disebut sinklin.
Lembah di daerah pegunungan patahan disebut graben atau slenk. Sedangkan
lembah di daerah yang bergunung-gunung disebut lembah antar pegunungan.
Sampai di sini mudah, bukan? Sekarang Anda bersama teman menyebutkan gunung,
pegunungan, dataran rendah, dataran tinggi, dan lembah yang ada di propinsimu.
Jika sudah selesai, mari kita lanjutkan pada bentuk muka bumi di lautan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar